TNews, BATAM – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Wilayah Kepulauan Riau turun ke jalan dan mengepung kantor DPRD Kota Batam. Mereka menyuarakan keresahan publik terhadap belasan isu strategis yang dianggap luput dari perhatian serius pemerintah.
Di antara teriakan massa dan spanduk tuntutan, Wali Kota Batam Amsakar Achmad hadir langsung menemui mahasiswa, memperlihatkan sikap terbuka dan siap berdialog. Didampingi sejumlah anggota DPRD Kota Batam, Amsakar menerima tuntutan dan mengajak perwakilan mahasiswa masuk ke ruang rapat untuk berdiskusi secara langsung.
“Kita tidak menutup mata. Masalah sampah, banjir, mafia pangan, dan lainnya memang nyata. Tapi solusinya juga tidak instan,” ujar Amsakar dalam sesi dialog yang berlangsung lebih dari dua jam itu.
Salah satu isu paling disorot adalah pengelolaan sampah. Mahasiswa menilai kebijakan yang ada belum efektif, bahkan cenderung reaktif. Amsakar pun menjawab dengan membeberkan langkah-langkah konkret yang sudah dilakukan, termasuk mendatangkan puluhan kendaraan operasional baru dan merencanakan penggunaan incinerator di tahun depan.
Namun begitu, mahasiswa tetap menilai langkah-langkah tersebut belum menyentuh akar persoalan. Koordinator BEM SI Sumatera Bagian Utara, Muryadi Agus Priawan, menyebut, “Kami ingin keterlibatan warga dalam kebijakan, bukan hanya pengerahan alat. Ini bukan sekadar masalah teknis, tapi komitmen.”
Meski dihujani kritik tajam, Wali Kota Batam tetap menunjukkan sikap terbuka dan menyebut pihaknya akan terus membuka ruang komunikasi dengan mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya.*
Laporan : Nanang Zakaria